Feeds:
Posts
Comments

I just went to my very first body treatment yesterday. Yep, those kinds of laser facial, detox sauna, fancy manicure pedicure kind of thing. I’m like 27 and never have I been to these kinds of self pampering facilities. Daym, I’m so excited I wanna punch myself (maklum ya biasa di rumah cuci muka aja pake sabun colek).

Begitu sampai gw di-brief dengan mba-mba canggih yang berbicara berbagai bahasa. Kalo klien bule dia pake bahasa inggris, klien jepang di pun berbahasa jepang. Gw sama keluarga dateng dia pun sukses berlogat batak kental… Okeh mba, hampir gw khawatir dia bakal berbahasa mandarin.

Anyways…

Gw pun memulai perawatan tubuh. Awalnya wajah gw dibersihin dulu pake lotion wangi gitu terus dipijit pijit enaknya… Kemudian keluarlah alat-alat canggih. Semua warna putih. Rasanya pengen gw gerayangi dengan norak, segala mesin mesin itu berbunyi rrrrrr lembut itu. Akhirnya mereka pake laser, rasanya hangat-hangat lucu. Coba ada comro sama es teh manis, lengkap kebahagiaan ini.

Selesai treatment rasanya seger, macam habis dibuang ke laut terus dipungut lagi. For a sec I feel like being one of those hot mommas at the mall… You know… The walking big haired high heeled breeder with their 2 kids and 5 nannies looking pretty in their branded bags and clothes. I bet they must go through these kinds of treatments regularly. Hey, I should do this more often too! OMG great idea!

Kemudian saya bayar bill-nya…

Kemudian saya melirik dompet…

Kemudian saya berpikir… “okeyyy… maybe sabun colek is not so bad after all”

 

Lupakan sajalah semua yang pernah terjadi diantara kita,

Lita

What a NIGHT!

Okeh, seriously. Hari ini luar biasa.

Memang kan belakangan lagi musim hujan berkepanjangan ya. Jalanan banjir dimana-mana. Hari ini gw sengaja pulang terlambat dari kantor. Bukannnn… bukan menghindari macet. Soalnya gw ambisius kerja gitu, kalo gak kerja rasanya gundah gitu. Sungguh *senyum indah*

Anyway intinya sekitar jam 7.30 malam gw berpulang dari kantor daerah Jakarta selatan. Rumah gue di Jakarta Barat. Kira-kira situasi cukup bersahabat di jalan tol. Standar sekitar 1,5 jam sudah sampai di daerah Jakarta Barat, Angke lebih tepatnya. Bagi yang tau daerah Angke, kan ada kali ya disitu. Yak betul… meluaplah itu kali secara seharian hujan ya bow. Hujan plus kali meluap itu kan artinya BANJIR ya sodara-sodara. Tertahanlah gue selama 2 jam dengan kondisi banjir semakin tinggi. Awalnya semata kaki.

Gw + sopir: dudiduu…. lalala… (masi santai)

Banjir pun naik jadi sebetis

Gw + sopir: langitnya gelap ya… (mulai salting) *yaeya lah jem 10 malem getoh, masa langitnya oren*

Banjir pun naik jadi selutut

Gw: errr… kenapa berasa ada aer masuk di kaki gue (mobilnya sedan by the way)

Sopir: tolong liatin, di kiri masih bisa ga ya?

Gw: kayanya engga (dalam hati: HELP!!! HELP!! We’re drowning!!!! OMG. Dear Titanic passengers, I feel you guys! Oh No!)

Sopir: gpp nanti kita ambil jalur kanan terus aja ya

Gw: (WAW macam cool kali. Bapak… you’re my hero, Pak… Selamatkan kita dari segala kebanjiran ini!!! Selamatkan mobilnya dulu soalnya mobilnya gak diasuransi…)

Sukurnya setelah beberapa lama yang sangat lama, kita akhirnya terbebas dari banjir. Di dekat rumah, Pak sopir minta ijin cek mobil dulu. Mampirlah kita di supermarket terdekat. Saat sedang cek cek mobil tiba-tiba gw melihat ada tetesan darah di karpet.

Gw: Pak, itu kenapa….

JENG JENG!!!

Banyak bener darah keluar dari jari Pak sopir (semacam jarinya menstruasi). Langsunglah gue kasi air mineral botol supaya dibersihkan lukanya. Ehhh makin disiram aer makin mengalir itu darah (ok, I am never a good doctor for anyone)

Dalam keadaan kalut, gw masuk supermarket dan membeli alkohol (yang ternyata adalah pembersih kutek – damn it! Jadi gw balik lagi membeli alkohol yang benar), obat dan handiplast buat ngobatin Pak Sopir (dalam hati, ini kalo cowo lagi pedekate, romantis kali nih pake acara obat-obatin luka).

Singkat cerita, Pak sopir terobati dengan baik dan benar. Gw pun diantarkan sampai rumah. Saat itu udah jam 12 malem, dengan semangat gw keluarkanlah kunci rumah untuk membuka gembok. Ga sampe 2 detik gw goyang-goyang di kunci di lobang gembok, mendadak ada bunyi  ”KREK” Dalam keadaan blur dan melayang-layang karena kecapean gw masih menggoyang yang berpikir “kok jadi enteng? Longgar si lobang kunci. Dasar kau gembok murahan!! *tampar*” Gw cek lah kondisi si gembok

JENG JENG JENGGGG!!

Si kunci pun patah dan sisa kunci yang patah masih di dalam gembok yang terkunci rapat.

(memandang langit sambil berteriak “WHY GOD WHY…!”) Rasanya ingin tersungkur dalam hujan gerimis sambil menjorokkan diri sendiri ke selokan.

Akhirnya dengan terpaksa gw menekan bel tak menentu sampai akhirnya mami dan papi tercinta keluar rumah. Gw pun heboh menjelaskan apa yang terjadi. Mereka terdiam memandang gue… (entah masih ngantuk atau masih gak bisa menerima kenyataan si gembok yang rusak memisahkan mereka dengan anak kesayangannya ini)

Akhirnya bokap berkata: jadi gimana? tadi kamu ngomong apa? (okeh, jadi mereka terdiam karena masi ngantuk)

Gw: Pa, kuncinya patah

Bokap: (mukanya langsung melek, tetep sipit, tapi gw tau dia udah kaget) HAH, kamu ga bisa masuk? Kita ga bisa keluar???? *trs dia garuk garuk*)

Gw: Gimana ya

Bokap: Gimana ya

Somehow nyokap gw keluar dengan ide brilian:

Nyokap: gergaji

Bokap: ga punya

Gw: (nunduk)

Nyokap: kursi

Bokap: memandang pager setinggi gambreng

Gw: (makin nunduk) not the best idea, Mom

Nyokap: ohhh pake tangga aja

Bokap: oya ambil tangga! ayo cepet, terus tangganya dikeluarin, Lita manjat dari samping, gelantungan di pinggir, bisa jalan di tembok sambil pegangan atas tu.

Gw: (*mulai berbinar* nah titik cerah tu. walaupun gw harus gelantungan kayak monyet)

Waktu menunjukkan pukul 12.30 malam… Saat itu gw pake terusan rok, sepatu high heel dan jas rapih. Jangan dibayangkan bagaimana pose saat memanjat pagar. Sukur ga dipasang kawat duri ya cyin. Saat tangga sudah diturunkan dan gw sudah bersiap, bokap pun memberi aba-aba

Bokap: ayo naik cepet, trs ke samping ya

Terus nyokap pun mengeluarkan pertanyaan brilian lagi:

Nyokap: pa, itu naiknya begitu, turunnya gimana? Masa dia loncat?

Bokap: (masih semangat 45) ah itu nanti!! naik dulu yang penting dia udah masuk, turunnya gimana nanti aja!

Gw: (JENG… okeh papi, panjet pager dulu ya. Turunnya gimana urusan nanti. Ok, that’s NOT the best idea….)

Nyokap pun akhirnya dengan tanggap meminta mba di rumah untuk menyusun 2 kursi (lagi-lagi jangan dibayangkan disusunnya gimana).

Setelah memanjat dan merepet-repet tembok sambil gelantungan di tempat gantungan pot, gw pun berjingkat-jingkat menuruni kursi-kursi yang disiapkan nyokap.

1 AM and here I am… At home… Inside the house.. Safe and sound. Looking like shit and mentally traumatized by all the unfortunate events that happens subsequently but HEY I’m glad I’m all in one piece.

Not again, I do not want to experience this kind of night again.

What a NIGHT!

-Lita

Sekitar bulan lalu gw sempat tidak sengaja merasakan ada benjolan di area payudara. Sadarnya ketika lagi mandi (jangan dibayangkan ya prosesnya sedang mandi sampai mendapatkan benjolan apa saja yang terjadi dan terlakukan…)

Agak penasaran, akhirnya kemarin ini gw pergi ke salah satu rumah sakit swasta di Jakarta untuk mengecek benjolan itu. Guess what, mengecek payudara untuk wanita itu dirujuknya di bagian dokter kandungan. Yak, betul, saya perempuan single datang ke dokter kandungan duduk diantara pasangan-pasangan muda dengan istri-istri yang perutnya membesar karena hamil. Perut saya sendiri membesar karena gizi buruk. Hyuk…

Sebelumnya aja waktu buat perjanjian sudah menimbulkan kehebohan sejenak:

Dua hari sebelumnya, di kantor, sore-sore…

Gw: iya, saya ingin buat janji dengan dokter X di bagian kandungan untuk Sabtu jam 10 pagi ya (ngomongnya pake toa)

Sekitar 4 orang teman kantor yang duduk di sekeliling gw pun langsung…

Teman 1: Mangap… (yang ini duduk persis di sebelah gw dan mangapnya sambil memandang gw lekat-lekat)

Teman 2: Membelalak (matanya berkata: anjritttt anak Franky ya??? – Franky itu teman kantor yang selalu diberitakan memadu kasih dengan saya. Read: Gosip Selingkuh di Kantor Jangan jangan dia sudah membayangkan bayi eksotis bermata sipit berkulit hitam macam beruang madu)

Teman 3: Nengok terus memandang angkasa dengan wajah “dudiduuu… anggaplah gw ga denger soal dokter kandungan.. lalala”

Teman 4: Lit, kok dokter kandungan sih?? Lo hamil??? Pantes lo makannya banyak banget (yak, yang ini jujur bener… dan tidak, kalau soal makan, hamil dan tidak hamil saya memang makannya banyak)

Kembali ke dokter… Jadi akhirnya kemarin payudara gw diperiksa. Sengaja milih dokter perempuan. Dalam beberapa detik setelah dia memeriksa dia langsung berkata:

Dokter: ohhh ini ada tumor jinak (muka datar. suara datar)

Gw: ohhh oke… (santai sambil pake baju mikirin nanti abis ini mau makan bakso)

2 detik kemudian

Gw: wait…. TUMOR??? WTF?!?!?!!!! Sounds serious, people die of tumor, right??? (langsung lebai)

Dokter: (masi muka datar – hebat ya dokter-dokter mukanya selalu tenang dan datar) ini ga bahaya kok, cuma tumor jinak. paling harus diambil aja supaya ga tumbuh.

Gw: (diambil pake apaan dok? pake sendok?)

Dokter: nanti Ibu Lita perlu USG ya, terus saya daftarkan ke dokter bedah onkologi. Hmmmm oiya dokter onkologi kita yang kemarin sudah meninggal ya, padahal dia satu-satunya. Hmmm…

Gw: JENG JENG (aaakkhhh tidakkkk!! kenapa dia meninggal??? kenapa??? onkologi itu apa???? » kalut sendiri ceritanya)

Dokter: ohhhh ada kok, dokter Y, saya buatkan surat rujukan ya nanti Ibu Lita bisa konsultasi dengan dokter onkologi (setelah gw google ternyata onkologi itu sub bidang medis yang mempelajari dan merawat tumor/ kanker » ok, this definition scares the crap outta my own bottom hole)

Gw: dokter, kalau dibedah nanti payudara saya bisa kecil sebelah ga? (yak, pertanyaan macam apa ini!!! Tapi sungguh, saya belum menikah… Punya payudara yang sinkron aja ga laku-laku, apalagi yang kecil sebelah » gw terjun ke got aja de)

Dokter: *cuma ketawa* engga lahhhh (mungkin dia berpikir ini perempuan ga penting banget. Padahal buat gw ini penting banget lohh – tetep).

Sepulangnya dari rumah sakit, di jalan menuju makan bakso tak hentinya gw berpikir:

“Nanti pas operasi, masi tetep bisa pake eyeliner sama pensil alis gak ya. Tar kalo ada yg jenguk muka gw jelek bener dong ga dandan. Ini nanti bekas operasinya gimana ya, masa ada goresan gitu, jelek bener. Whoa apa bisa sekalian di-operasi plastik ya supaya ga ada bekasnya… Kalo operasi plastik, wahhh apa bisa sekalian cup-nya digedein, dikittt aja. Hohoho. Sekalian bisa operasi rahang, biar mukanya oval macam cewe cewe cakep korea. Oh mata kiri gw kan kecil sebelah, sekalian digedein. Sama sedot lemak….”

Dan saya pun seru sendiri memikirkan operasi plastik. Dasar perempuan superficial (menampar diri sendiri). Lita, kecantikan itu dari dalam hati tau… Kamu cantik cantik dari hatimu… *nyanyi*

Jadi sekarang ini gw rencananya akan membuat janji konsultasi dengan dokter onkologi, sambil coba cari-cari referensi dulu. Berhubung cuma tumor jinak, seharusnya ga bahaya. Tapi memang menurut gw,  jangan pernah menyepelekan hal kecil. Semua hal besar itu datang dari yang kecil bukan? Yahhh semoga cepat beres dan tidak ada masalah yang berarti. Aminnn.

Wish me luck, guys!

Lita Rosalia

I’m just back from Papua!! Yep, bener Papua yang ini

Jadi kantor gw kan bergerak di bidang minyak dan gas, punya fasilitas di daerah Papua. Naaahhh di suatu Senin pagi di penghujung bulan Juli, gw dipanggil Ibu manager:

Manager: Lita kamu Kamis besok ke Papua ya, ke facility kita.

Gw: “Iya Bu!” (langsung mau) WOOOWWWW (dalam hati berbinar bahagia – soalnya yang terbayang Raja Ampat, bukan bekerja di kantor di daerah terpencil)

Manager: Nanti kamu kontak sama karyawan di sana ya untuk atur jadwal dan lainnya. Disana kamu perlu presentasi materi HRD dan meeting.

Langsunglah gw telpon salah satu karyawan di sana untuk mencari tahu apa saja yang perlu gw siapkan dan jadwal selama di  Papua.

Gw: Halooo Ibu, saya bakal kesana nih Jumat besok, tips dan trik bertahan hidup bagaimana Bu? (secara gw ga ada gambaran ya booo tempatnya kek apaan)

Ibu: oke Lita, kamu tenang aja, di site nih keselamatan pasti terjamin (terus suaranya mengecil) kalau kehormatan belum tentu… Hahaha (terus dia ketawa suaranya kenceng lagi)

Gw: (mulut menganga dengan tatapan nanar sambil meremas ganggang telpon) …………. Ha… ha… Ibu! Bisa aja!! Becanda kan ya.. Ha ha… (saya agak khawatir… Walaupun kadang suka lupa ditaro dimana kehormatan dan harga diri gini…)

Anyway, ibu pun melanjutkan…

Ibu: Yak, jadi pastinya dress code kamu harus pakai tangan panjang, celana panjang, sepatu datar ya, jangan pake hak tinggi, jangan kayak Cherry Bell. Ya Lita ya, jangan kayak Cherry Bell

Gw: (Jangan kayak Cherry Bell-nya ditekankan sampe 2 kali – Yah Bu, mau begimana lagi, memang mukanya sudah manis banget kaya Cherry Bell. Jangan sering-sering diliat Bu, nanti diabetes *hyuk* Lumayan, disamain sama gadis gadis lucu. Berkah bener)

Foto Personil Cherry Belle

Foto Personil Lita Belle

Di hari Kamis saat berangkat, ternyata perjalanannya jauhhhhhhh bener. Total 12 jam saja. Berangkat mukanya kaya Ceribel sampe tujuan mukanya kaya trio macan.

Sampai di facility kantor di Papua ternyata tempatnya oke bangettttttt. It’s amazing how the company can build up the whole infrastructure from ground up since years ago. Dari hutan belantara sampe jadi kompleks pengolahan, kantor, dan tempat tinggal. Fasilitasnya lengkap, super safe, banyak makanan (penting abis nih), entertainment, olahraga, semuanya bersih dan bagus.

Salah satu pengalaman menarik, memang disini mayoritas laki-laki, sekitar 95%nya kali. Kebayang dong perempuannya dikitnya keterlaluan. Si ibu karyawan di Papua yang baik hati dan penyayang pun sudah berpesan: “Lita, disini babi hutan dikasi lipstik aja bisa keliatan cakep, jadi kamu bisa jadi pusat perhatian” (*menarik napas lega* Terima kasih, Bu, good to know I’m gonna look better than a female wild boar)

Dan betul… baru kali ini dalam hidup gw  setiap gw lewat semua orang menengok. Sekali-kalinya boooo dalam hidup ini, gw berasa selebriti gitu. Awwwhhh My Gowwddddd (merujuk pada Cinca Lawra kalo jadi orang famous harus begitu ngomongnya). Begitu gw lewat orang-orang langsung nengok dan memandang… Bukan karena cakep kayak Cinca Lawra – tapi karena pilihan orang-orang itu antara gw atau ya… babi hutan berlipstik itu. Gpp lah yang sekali-kalinya merasakan jadi orang famous gitu ya. Lumayan. Harap maklum ya, newbie di dunia per-famous-an soalnya. Kalo di Jakarta boro boro cuma jalan. Mau loncat salto sambil joget-joget juga ga ada yang peduli. Memang susah ya kalo mau eksis di kota Metropolitan yang sudah eksis ini.

Tapi memang jadi pusat perhatian itu tidak menyenangkan. Sempat di suatu saat gw sedang berjalan sendiri menyebrang gedung, ada sekitar 15 laki-laki yang sepertinya akan pergi makan siang. Tidak hanya semua orang menengok tapi juga teriak “eeehhh ada cewe, ehh cewe cewe, hoiii sini dong, ceweeee… Michiko michiko… ceweee”

I was like…

Wooooot… dudes… seriously…??

Taken as a whole, the visit was a superb experience. I had effective meetings, good presentations and good discussions. Everyone was so friendly and helpful Hope you see them again some other times.

Makasi ya Bu Manager, saya sudah dikirim ke Papua.

Ps: dear Prita, in case you read this, beginilah cerita kemarin waktu di Papua. Seruuuuuu! Nice to see you in person.

Cherios,

Lita

Kemarin teman lama bokap kebetulan sedang bertandang ke rumah. Sebutlah namanya om Abun. Terakhir kali gw bertemu si om mungkin 10 tahun yang lalu.  Kemarin ini om Abun datang di Sabtu sore ketika gw mau pergi kencan bersama pacar. Namanya malem minggu mau indehoi kan dandannya harus maksimal ala anak gaul Jekardah gitu ya. Gw sapalah om Abun sesaat sebelum gw mau pergi:

Gw: sore om… *menyodorkan tangan dan tersenyum manis*

Om Abun: wah ini nonik yang dulu??? *mukanya kaget bener* (btw di rumah gw dipanggil nonik – panggilan orang Jawa untuk anak perempuan)

Bokap: iya, ini nonik

Om Abun: OPERASI PLASTIK ya??

JRENGGG Bagai kesambar petir baru kali ini gw dikira operasi plastik. “Makasi lho om, 10 tahun tak berjumpa dan komentar pertama anda operasi plastik” Sebetulnya dipikir-pikir hanya ada 2 kemungkinan:

  1. Dulu gw juelek buanget
  2. Sekarang gw cakep banget

Om Abun: masa sih gak operasi plastik? Dulu matanya sipit banget, ga begini

Gw: bukan om, ini dandan aja jadi matanya gedean, kalo dulu gak dandan jadi sipit banget (lemes juga ya menjelaskannya)

Om Abun: iya ya? Beda banget loh sekarang, dulu kan kamu jelek banget, gendut, sipit. Sekarang kurus dan putih ya (lilin kali om)

(Yak langsung terjawab kemungkinan di atas = Dulu gw jelek bener. Om jujur bener sih om…)

Bokap: HAHAHAHA iya ya, nonik cakep ya sekarang?? (sambil senyum hore gitu; bapak gw si girang bener macam ga sadar anaknya habis dihina dina) – kalo yg bilang cakep orang tua sendiri tu validitasnya dipertanyakan… *just sayin*

Om Abun: oke sekarang oke (sambil mengacungkan jempol ke arah bokap gw)

Gw: Hi… Hi… (gw gigit tu  jempol)

Om Abun: kapan kawin kamu?

Ok here we go again… Perempuan di usia 27 memang rentan terhadap pertanyaan beginian ya.

Bokap: masih nanti dia, mau kerja dulu katanya

Om Abun: abis kawin kan bisa kerja juga. Seumur kamu belum kawin nanti peranakannya karatan loh nik!

Gw: ………………………………… (ok, that’s…. errrr… that’s… Peranakan what?? Really?? Mami, papi, saya gak jadi indehoi ke mall deh. Mau terjun ke got aja ya)

Bokap: HAHAHAHAHA anak jaman sekarang karatannya lama! HAHAHAHA (ketawa aneh – yang jelas bukan ketawa girang)

What a Saturday afternoon! Whew!

Ps: Gw ga pernah operasi plastik. If I look better, that’s obviously the power of make up (kalo salah dandan jadi kayak bencong) I do still look like bloody sh*t when I don’t put my make up on. For real.

Thank heavens for whoever invented eyeliner,

Lita Rosalia

Hari Senin pukul 7.30 pagi – salah satu rekan di kantor mendadak memanggil gw ke ruangan meeting dengan wajah sangat serius:

Teman kantor (TK): Lita, saya perlu menyampaikan hal yang sangat serius ke kamu

Gw: (nyawa ini antara ada dan tiada) Iya, kenapa Bu?

TK: saya mendengar berita yang sangat tidak menyenangkan tentang kamu dan ini sangat serius! (mukanya tegang, bibirnya berkerut)

Gw: HAH??? Ada apa ya Bu??? (macam ditampar banci muka ini langsung segar)

Dalam hati gw berpikir, apa gw salah kirim email?? salah ngomong di salah satu meeting??? Pikiran berkecamuk!!!

TK: ada berita tentang kedekatan kamu dengan oknum di lantai 4, saya tidak bisa sebutkan namanya karena tidak etis…

Gw: FRANKY, bu?? (yang terpikirkan cuma 1 nama karena di kantor gw cuma dekat dengan oknum ini)

TK: Iya betul (langsung tanggap menjawab)

(hyukkk… katanya ga bole disebut namanya… *ehm*)

TK: jadi kamu dengan oknum ini, Franky… sedang menjadi pembicaraan seluruh kantor. Saya dengar ada foto-foto yang tersebar dan banyak cerita bahkan kamu sudah tinggal bareng dengan Franky. Kemarin salah satu orang kantor melihat kamu pulang bareng dengan dia (ibarat sedang curhat colongan si teman kantor yang baik hati ini mengeluarkan semua info yang dia dapatkan)

Dalam beberapa detik yang muncul di pikiran gw:

  1. ANJRITTTT fotonya tersebar???? ASTAGANAGA!!! TIDAKKKKKK!!!!
  2. Tinggal bareng???? TIDAKKKKKK!! Kehormatanku… Mau ditaruh dimana… *tersungkur*
  3. Eh laper ya bok, mau nitip bubur sama mbak Siti keburu gak ya? *lirik jam* (teteppp yang dipikirin makanan)

Gw: ……. (masih blm berkata apa2 – kemungkinan besar karena kelaparan)

Sebelum impulsif mengeluarkan komentar, gw berpikir lagi:

  1. Foto tersebar??? Foto apaan ya? Gw juga mau liat. Apa gw pernah dibius kemudian dinodai, difoto dan dianterin pulang seperti tidak terjadi apa-apa? I mean ya kalo mau menodai ya jangan dibius dong kan rugi ga berasa apa-apa *loh!!* (anjir amit-amit jabang bayi! Knock on the wood, ih amit-amit!!)
  2. Satu kantor ngegosipin gw??? – Whew I’m famous… (Mak, Lita sudah sakses jadi orang terkenal di ibukota, mak… salam sayang untuk ayah dan ibu di kampung Jelambar – terharu biru)

Kemudian teman kantor melanjutkan kata-katanya. Wajahnya tegang!! Wajah gw pun tegang!! (ya karena laper itu lho)

Teman Kantor (TK): Jadi ya, Lita. Berita ini adalah hal yang sangat buruk. Kamu merusak reputasi kamu, ini berarti kamu merusak reputasi HR!! Kamu sebagai HRD harusnya menjadi teladan, tidak hanya dari sisi perkerjaan tetap juga perilaku kamu. Ini benar-benar merusak reputasi (whoa ok, this is so serious!)

Gw: (sebetulnya begitu mendengar itu gw langsung lemas. Pelan-pelan gw berusaha menjelaskan)

  1. Bu, ada foto apa ya bu? Kalau ada saya mau lihat juga. Saya tidak merasa pernah foto yang tidak sopan (dalam hati: kalau mau berbuat tak sopan saya cari yang ganteng bu)
  2. Soal pulang bareng, saya kan memang suka nebeng pulang. Wajar juga kalo banyak yang lihat kan turun ke parkiran bareng (selalu halo-halo pula dengan segala satpam dan teman kantor *Dooohhhh*)
  3. Soal sering digosipin, memang sejak saya masuk semua orang sering meledek saya pacaran sama Franky. Saya sama Franky sih cuek aja. Saya sudah punya pacar (yang ganteng, putih, wangi, jenggotan dan modis – David Winarta). Franky sudah punya pacar (*ehm* yang kali ini pacarnya cantik sekali, rambutnya bagus, modis dan gaul)

Teman kantor pun menginterupsi: kamu kalau di kantor kan suka ketemu dia, kamu suka bertindak yang aneh-aneh ga? Pegangan tangan?

Gw: astaga, engga bu, di kantor gak pernah pegangan tangan (baru liat mukanya aja udah takut, bu, apalagi pegang tangan – takut tersengat racun cinta koboi Jakarta – ahayyy sengat, lebah kali)

TK: kalo di luar kantor pegangan tangan?

Gw: (errr this is question is so weird – dalam hati: gak cuma pegang tangan bu, di luar kantor saya sudah punya 4 anak sama Franky: Tingki wingki, dipsi, lala dan pu) Engga bu, di luar kantor ga pernah pegangan tangan *muka sopan padahal pikiran udah gak sopan*

TK: yasudah, ini masukan buat kamu supaya kamu lebih berhati-hati dengan tindakan kamu

Gw: Makasi ya bu buat masukannya (keluar ruang meeting – “Mba Siti, titip bubur ayam gak pake kacang gak pake emping, krupuknya yang banyak ya”)

Jadi, intinya memang lidah tak bertulang. Apalagi lidah orang Indonesia (termasuk lidah gw juga. Hohoho) Namanya gosip memang sering terjadi dan gak bisa dihindari. Ngegosip itu enak sih, adiktif! Yang penting gimana kita menyikapinya aja. Gw sendiri bersyukur banget ada rekan kerja yang begitu perhatiannya ngasi tau. Berarti kan maksudnya baik, dia peduli sama gw tidak hanya dari sisi kerjaan tapi secara personal juga (makasi ya teman kantorku tercinta. Semoga saya tidak dipecat, bisa gawat nasib cicilan mobil ini)

Anyhow… untuk yang penasaran siapa itu Franky. Dia temen dekat gw sejak gw baru masuk kantor yang sekarang. Laki-laki single nan tampan, baik hati, tidak sombong, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Gw sering ngobrol di kantor, sering nebeng pulang juga, suka pergi bareng juga. Jadi digosipin dehhhh. Luckily, my boyfriend, David knows him well so I bet David won’t be surprised with the interesting stories of the so called office affair.

Ngomong-ngomong soal “FOTO” mungkin ini kali ya foto yang sudah menodai reputasi, karir dan mengancam kelangsungan nasib cicilan mobil gw:

Memang habis foto rasanya ternoda sih, tangan item-item kayak abis kelunturan gitu

Kalo ini habis foto langsung memandang hengpon sambil elus-elus mupeng

 

Besok-besok gosipin gw naik gaji dong.

Ps: I’m making a CLOTHING LINE! Yipiiiii…! Isinya gambar muka gw dengan berbagai gaya *boong dee* I’ll share you the teaser later on. Stay tuned and stay away from drugs!

Loads of Love,

Lita

Di suatu malam yang galau…

Gw pulang ke rumah dengan hati yang sedih…

Saya pun mulai menitik air mata… (maklum ya, perempuan itu hatinya lembut seperti kembang tahu)

Si pacar, David Winarta pun menelpon (absen harian)

David: hey, how’s your day?

Gw: (berusaha menahan suara yang bergetar karena menangis) oh.. ok… all good (ceritanya tegar gitu) Kamu gimana?

David: standar sih hari ini, nothing new (suara cool datar dengan aksen-aksen bahasa Inggris kanada gitu de – si pacar lulusan sekolah kanada btw)

(Gw dalam hati: ini suara gw udah bergetar-getar bombay kok dia ga nyadar ya? – ceritanya minta ditanyain “kamu kenapa? Nangis ya? Ada apa?” trs diperhatiin gitu deeeee)

Gw: (agak menaikkan getar-getar bombay suara gw) ohh.. eerr.. well.. *uhuk* (dikasi efek batuk) *ehm* ka.. mu… udah.. ma… kan…?

David: udah, tadi makan di rumah. Kamu udah? (masi datar boooo suaranya)

(Gw dalam hati: anjirrrr nyet gw lagi nangis, suara udah bergetar –getar macam anak perawan nahan pipis, idung ga bisa napas gara2 ingusan ga berenti. Macam mana lo ga sadar-sadarrr!!! %#%$#&*^$@!!!)

ps: the hardest and lamest part of crying is the massive ingusan that comes in the same package with the teardrops. Air mata bole menetes di pipi – ini keren. Tapi ingusan dahsyat dan kemudian ga bisa napas lalu ingusnya ga sengaja masuk ke mulut??? Ga keren abis. Udah dada rasanya sakit trs mulut rasanya asin-asin gitu *astaga* Plussss bayangin kalo ingusnya kentel *ewwwww* bikin ilfil?? Balada orang nangis emang.

Lanjut….

Gw: (masih dalam rangka cari perhatian sama pacar yang datar ini, gw mulai menarik ingus – kan ada bunyinya tuh srot srot gitu ya) i..ya… aku.. u..dah makan… ga bisa banyak *srottttt* (masi ada dong efek ingusannya) ga seberapa pengen makan (nah ini maksudnya kode juga nih “ga bisa makan…. Perhatiin dongggggg” – kategori caper juga)

David: ok, bagus. Paling engga kamu bisa makan sedikit (tetep… suara datar… Malah yang ini kayanya cenderung riang. Seperti sedikit tersenyum)

Gw: (HAAAAAA…!! Ok let’s show the ultimate –narik ingus suara bergetar mau mati GW LAGI NANGIS DAN MINTA PERHATIAN- hint) *srroooottttt hik hik huwww uhuk uhuk srot* Aku mau tidur ya… *srot srot* (ini udah ga bisa lebih ambisius lagi narik ingusnya) Good night….

David: sippp, good night ya. Selamat tidur!!! *Klik* *tutttttt tutttt tuttttt* (dan telpon pun mati begitu saja)

Gw: …………….. *krik* (nanar memandang telpon…..)

Jadi intinya gw menangis bajaj dengan segenap jiwa raga dan David sama sekali ga nyadar *hyuuukkkk mari*

Sejujurnya at the end gw sampe ketawa sendiri. Lebai banget si gw. Maklum ya perempuan itu ngarepnya laki-laki seperti softex, lembut dan dapat mengerti wanita.

Tapi wajar banget sih kalau David ga ngerti, basically I told him I’m all good. Men and women have so many neurologically different brain structures. Jadinya pola pikir, perilaku dan cara merespon cowo dan cewe tu beda. Dasar pemikirannya aja beda, wajar kan kalo ga ngerti.

Above all… Gw baru jadian ajeeee. Masih saling belum paham kebiasaan masing-masing. Hihihi… Well David has been good in so many ways though, so I should really be grateful.

I think David has zero idea this ever happened,

Lita

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.